Langsung ke konten utama

Senja di dalam WhatsApp

Selang beberapa bulan putus denganku, dia tunangan dengan pria lain. Notifikasi muncul di hpku "saya besokmau tunangan mohon doanya, terima kasih pernah ada di kehidupanku". Kata dia dalam via whatsApp.

Ingatanku muncul kembali, dulu kita pernah bersama dengan janji manis yang kita buat  bersama dan akhirnya kita tidak bisa penuhi bersama pula. Iya aku masih ingat dulu kau berkata "semoga kita abadi" dengan senyum manis mengatakan itu ketika langit senja sedang cantik cantiknya. Ditempat itu pula kita pertama kali mengukir nama kita didinding cinta.

Ah sudahlah itu dulukan, gumamku dalam hati merusak ingatan yang sedang berlalu. "Selamat ya semoga bahagia" kutulis di WhatsApp ditambah emoticon senyum manis. Mungkin dia hanya ingin mengatakan bahwa sudah bahagia dengan hidup barunya. Obrola selesai tanpa ada balasan lebih lanjut.

Seminggu berlalu setelah obrolan singkat padat via WhatsApp. Tidak salah pukul 00.00, "Boleh aku cerita sesuatu" notif darinya muncul kembali. Pekikku ada apa ini, kanapa masih mengganggu hidupku saja perempuan ini. "Silahkan, Apa yang mau kamu ceritakan?" Balasku?.

"Aku sedikit kecewa dengan tunanganku. Ketika senja baru bagus bagusnya dia berkata tidak mengenakkan, aku sudah tidak perjaka. Sebelum kita bertunangan aku sudah bercinta dengan perempuan lain kata tunanganku" mulai cerita dengan nada sendu.

"Lah terus apa masalahnya? Bukankah itu baik tunanganmu berkata jujur denganmu?" Sautku. "Iya aku akui kejujurannya, yang aku permasalahkan kanapa dia berkata seperti itu ketika senja baru bagus bagusnya. Ingatanku muncun kembali kenangan tentang kita. Dulu kita sering menghabiskan waktu berdua hanya untuk melihat senjakan?, dengan janji janji manis yang kita buat. Kenapa tidak kau saja jadi tunanganku, pria yang saat ini duduk denganku hanya bisa merusak senja. Beda dengan kamu" diakhiri dengan nada kesal.

Dulu memang kita disatukan karena sama sama menyukai senja yang dipisahkan oleh malam. Aku tidak tau harus mengatakan apa,  aku tidak inging merusak tunangannya. "Kamu tidak bahagia hubunganmu dengannya saat ini? Gara gara dia merusak senjamu?. Aku kira itu sama indahnya, dulu kita melewati senja dengan janji janji manis yang akhirnya berujung perpisahan. Tunanganmu memiliki caranya sendiri melewati senja dia menikmati  senja dengan kejujuran, itu bertanda dia serius denganmu" kataku.

"Mungkin aku belum terbiasa dengan caranya menikmati senja, apakah dulu kamu tidak serius dengaku?" Dia mulia menanyakan apa yang keluar dari mulutku.

"Aku serius dulu denganmu tapi aku tidak punya keberanian yang dimiliki tunanganmu saat ini. Beruntung lah kau" sautku mengakui kekuranganku.

"Besok aku tunggu di tempat biasa kita melihat senja dulu, jangan lupa bawa montor bututmu dan baju andalanmu dulu. Aku tunggu." Tut...tut......tut.......

Menutup telepon begitu saja tanpa memberi kesempatan aku untuk menjawab. Masih ingat saja dengan baju itu itu saja ketika kita bertemu dulu, ya memang menurutku baju yang aku punya hanya itu yang paling bagus. Apa yang dia akan lakukan denganku besok, entahlah wanita ambigu

Pertemuan itu menjadi pertemuanku untuk yang terakhir kalinya, sebelum dia menlanjutkan hidup baru dengan tunangannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata bapak berilah nilai dalam hidupmu tapi jangan nambah nambah ya nanti semuanya ritme yang kamu capai bisa hancur

Seperti biasa sore datang, aku dan bapakku duduk di beranda rumah dengan teh panas bikinan ibu. Suasana diantara kita sepi sekali hanya melihat lalu-lalang kendaraan bermotor lewat begitu saja. Tiba tiba bapak bilang kepadaku "Kamu kalo dikasih uang kamu mintak uang berapa?. Tapi jangan nambah ya". Dengan penuh pikiran yang matang aku menyebut uang 1 M, yah memang aku hanya bisa membayangkan uang 1 M saja pada saat itu sudah banyak dan tidak kepikiran 1 T nolnya ada berapapun aku tidak tahu "1 M pak". "Kenapa 1M ? Kamu udah punya rencana buat apa itu?" Timpal bapak dari jawabanku tadi. "Sudah pak, buat beli rumah, buat beli montor, buat buka usaha" jawabku. Sambil menghisap rokok ditangan kanannya bapak bilang "cukup ya, benar ya, nanti kamu aku kasih uang 1M tapi jangan nambah loh ya". Tak lama kemudian bapak kembali berbicara Kalo kamu berpikir itu kurang pasti kurang, tapi kalo kamu berpikir bahwa itu anugerah kelebihan yang sangat l...

Negara hayalan

Nagara ini sudah tidak layak untuk orang miskin, butuh uang banyak untuk bertahan hidup di sini. Bagaimana tidak ayahku mati didepan sekretariat rumah sakit karena tidak punya uang. Ibuku juga meninggal karena menyembunyikan penyakitnya gara gara dia tau kalo aku tidak sanggup membiayai berobatnya dan adikku putus sekolah, karena tak ada biyaya.  Aku dipecat di sebuah pabrik karena aku selalu telat ketika istirahat untuk menjalankan kewajiban. Iya benar aku dipecat gara gara mengantri untuk sholat. Aku masih ingat betul bagaimana bunyi UUD 1945 yang dulu waktu SMP aku hafalkan bunyi "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan" mana yang harus dihapuskan? Orang miskinkah? Memang benar kemerdekaan adalah hak, tapi kenyataannya bukan untuk kami! Bayangkan didepan sekretariat bapakku mati tanpa pertolongan karena uangnya tidak cuku...

Kematian dengan damai

Berapa banyak masjid di surga? Jika bisa menjawab kamu boleh menuduhku kafir Berapa banyak gereja di surga? Jika bisa menjawab baptislah aku Adakah kedamaian sejinak merpati atau melainkan seekor jaguar yang buas. Bisakah kalian mengakui kebenaran meskipun tidak harus setuju dengan kebenaran. Adakah yang menantiku dinegara ini? Keunggulan sejati atau kedamaian? Bukan perihal menang dan kalah tapi kedamaian Atau bagaimana kuceritakan tentang kematian, aku sendiri kamatian itu. Sekali lagi berapa banyak masjid dan gereja disurga nanti?