Kata bapak berilah nilai dalam hidupmu tapi jangan nambah nambah ya nanti semuanya ritme yang kamu capai bisa hancur
Seperti biasa sore datang, aku dan bapakku duduk di beranda rumah dengan teh panas bikinan ibu. Suasana diantara kita sepi sekali hanya melihat lalu-lalang kendaraan bermotor lewat begitu saja.
Tiba tiba bapak bilang kepadaku "Kamu kalo dikasih uang kamu mintak uang berapa?. Tapi jangan nambah ya". Dengan penuh pikiran yang matang aku menyebut uang 1 M, yah memang aku hanya bisa membayangkan uang 1 M saja pada saat itu sudah banyak dan tidak kepikiran 1 T nolnya ada berapapun aku tidak tahu "1 M pak".
"Kenapa 1M ? Kamu udah punya rencana buat apa itu?" Timpal bapak dari jawabanku tadi. "Sudah pak, buat beli rumah, buat beli montor, buat buka usaha" jawabku.
Sambil menghisap rokok ditangan kanannya bapak bilang "cukup ya, benar ya, nanti kamu aku kasih uang 1M tapi jangan nambah loh ya". Tak lama kemudian bapak kembali berbicara Kalo kamu berpikir itu kurang pasti kurang, tapi kalo kamu berpikir bahwa itu anugerah kelebihan yang sangat luar biasa tanpa ada perhitungan perhitungan kamu akan merasa luar biasa.
Kamu kalo mendapat 1M pasti akan kurang kalo kamu menggunakan perhitungan tadi. Tapi kamu kalo dikasih 1M tanpa sebabnya apa, wah pasti kamu akan senang dan merasa istimewa.
Kamu tidak akan pernah cukup kalo kamu sebutin apa yang ada di bayangan, atau ada dirancangan akan tidak pernah terjadi, harus yang kamu lakuin adalah bersyukur aja sama hidup.
"Tapi pak hidup ini berjalan naik ke atas pak, tidak mau lah aku hidup gini gini aja pak harus berkembang" sautku tidak terima apa yang di ucapkan bapak tadi.
"Hidup harus punya nilai nak kayak kamu disekolah gitu kamu kepengen nilai berapa nak? ada loh temen kamu yang pingin jadi anak pintar dan ingin mendapatkan nilai 100, ada juga yang pingin nilai 6 yang penting tidak merah biar tidak dimarahin orang tuanya, kalo kamu pingin berapa ?" Bapak kembali bertanya kepadaku.
"Pingin 8 pak yah biar tidak terlihat pintar pintar banget dan jelek banget, cukup lah pak" sautku. Entah apa obrolan sore kami ini bermuara kemana, aku masih belum paham.
"Bener 8 jangan nambah ya, sekali kamu mintak nambah akan berantakan konsep yang telah kamu jalani selama ini, tentang kebaikan, tentang cukup, tentang sabar, seakan akan kamu ingin menaikkan di angka 9 tanpa kamu tahu sebabnya. Misalnya sebabnya cumak gara gara gengsi, ketika kamu kerja nanti teman kantormu ada yang bawa mobil jazz baru, ah aku kepengen ah beli mobil jazz. Terus besoknya kamu korupsi, atau menunda keuangan yang harusnya berjalan normal".
Pada saat itu aku berpikir yang diucapkan bapakku adalah sesuatu yang keren tanpa tahu maksud, selalu ada kata jangan nambah ya di akhir pertanyaanya. Yah aku mengangguk angguk saja lah. Tiba tiba ibu datang ikut bergabung dengan aku dan bapak membawa pisang goreng hangat. "Pada ngomongin apa nih kayaknya seru ibu kok tidak diajak sih huhh, ini makan ada pisang goreng masih hangat loh Ayo dimakan dulu" kata ibuk sambil ikut duduk dengan kita.
Bapak langsung memulai obrolan lagi sambil memegang teh hangat bikinan ibu yang sudah dingin mengikuti obrolan kita tadi "nah gini sekarang bayangin ya bapak buat perlombaan teh manis yang jadi pesertanya adalah ibu dan barista teh manis, di suruh buat teh manis, airnya derajat panasnya sama, gula dan sendoknya sama bahkan sendoknya besinya sama, tehnya jenisnya sama, suhu ruangan sama juga. Kamu sebagai seorang anak menjadi juri, menurutmu menang mana ?"
"Yah menang barista lah pak dia yang perna belajar soal membikin teh terbaik dari pada ibu" aku Jawab seperti itu. Sebenarnya aku tidak tahu jawaban yang tepat tapi aku memilih barista teh manis cumak karena aku belum pernah mencicipi teh manis buatan barista hahaha.
Nah kalo gini gimana nak dengan materi yang sama, mengaduknya bisa beda yang satu mengaduk dengan perasaan bahwa saya adalah seorang barista terhebat di dunia dan yang satu mengaduk dengan perasaan bahwa saya ibu kamu, saya sayang sama kamu saya aduk teh manis seperti yang biasa saya bikinin buat kamu saat kamu sakit. Pasti menang ibu, tidak ada yang bisa ngalahin rasa, esensi, target, tujuan tidak akan pernah bisa dikalahkan dengan satu hal kebijaksanaan. Yang ibu hidangkan bukan ingin dipuji sebagai ibu terbaik, tapi Karana ibu sayang sama kamu.
Kalo barista kan beda orientasinya kepengen di juluki atau di nobatkan menjadi seorang barista yang paling hebat. Ingat kamu sebagai juri sekaligus anak loh ya.
Ibu sambil tertawa mendengar penjelasan ayah tadi dan aku jadi bingung huhhh. Belum sampai selesai aku bisa memahami penjelasan bapak. Bapak sudah pindah obrolan lagi
"Nah gini deh nak kamu kan kepingin bukak kedai kopi di tempat yang sepanjang jalan banyak kedai kopinya menurutmu gimana kamu jadi buka atau enggak ?" Aku di gampar pertanyaan lagi sama bapak. "Aku tetep buka lah pak, aku akan membuat kedai kopi terhebat dan Terenak di jalan ini" yah memang dari duru aku kepingin buka kedai kopi dan sering berdiskusi sama bapak.
"Lah kamu pikir semua kedai kopi yang ada di jalan itu tidak berpikir yang sama denganmu kepingin kedai kopi terenak. Coba kalo gini niatnya, saya ingin berpartisipasi juga agar kalo orang yang ada di kedai kopi sana penuh bisa mampir ke kedai kopi saya. Siapa tahu semua orang pingin minum kopi tapi penuh tuh tempat yang disana. Saya bikin kedai kopi disini yang bisa memfasilitasi mereka yang ingin ngopi tapi kedainya penuh yang disana. Niatnya begitu saja bukan untung bukan rugi". Saut bapak sambil memakan pisang goreng bikinan ibu.
Masih dengan kebingungan yang sama apa yang ingin bapak sampaikan ke aku hari ini. Yah begitulah bapak sering memberi cerita yang unik tapi penuh makna. Beginilah rutinitas kami ketika sore tidak ada kerjaan atau telah menyelesaikan pekerjaan kita sekeluarga ngobrol di beranda rumah.

Komentar
Posting Komentar