Langsung ke konten utama

Semut tidak perlu agama

Kadang dalam pikiran bertanya apa tidak lelah kau semut tiap hari mondar mandir kesana kemari memanjat pohon, menyusuri selokan, hingga berjalan dengan rapi di tembok rumah. Aku saja sebagai manusia bangun pagi, siap siap untuk berkerja sampai sore sudah letih dan kusut begini itu saja masih dibantu teknologi. Kau tiap hari berjalan kaki, membawa benda 5 kali lebih besar dari pada tubuhmu, kau tak mengeluh. Atau keluh kesahmu tak terdengar oleh ku.

Sebentar semut atau mungkin kau berjalan kesana kemari itu mencari tuhan? Iya kalo boleh tahu agamamu apa semut?. Kayaknya hidup sepertimu enak juga, tanpa masalah, tidak pusing mengurusi agama semut lain, tidak perlu bertengkar soal dogma dogma agama, tak perlu berdebat soal mengucapkan salamat hari raya kepada agama lain boleh atau tidak. Kau punya agama atau tidak?, Apa yang kau takutkan?, Jika kau tak punya agama?. Seandainya kita bisa berdialog secara empat mata, akan kuhujani dengan pertanyaan.

Hai kau manusia ini aku semut, aku sama sepertimu cumak yang membedakan kamu lebih besar dan kamu memiliki akal. Sayangnya kau itu serakah, kau itu egois demi memenuhi keinginan pribadi kau rela menggunakan berbagai cara.

Hai manusia apa kau terlalu bangga dengan akalmu? Sampai sampai kau tidak menggunakan akal sehatmu. Akal bisa jadi kelebihan dan kekurangamu. Kau merasa paling benar, paling berkuasa, paling dan paling segalanya tanpa memikirkan kelangsungan hidup kami. Alam semesta tidak cukup untuk keserakahanmu.

Hai manusia kamu mempunyai agama yang menuntunmu kepada Tuhan. Semua inti dari agama adalah menghormati alam semesta yang di ciptakan tuhanmu. Begitu saja kamu masih tak paham. Akalmu buat apa? Agamamu buat apa? Apa yang kau pikirkan? Keegoisanmu kah? Atau kau ingin menguasai semuanya?

Lagi lagi aku selalu mendengarkan ketika musibah menghampirimu kamu berkata "semoga bumi lekas sembuh" dengan tanpa rasa bersalah sama sekali. Sekali lagi aku tanya akalmu dimana? Yang menyebabkan ini semua itu kamu manusia, yang sakit itu kamu, sok segala mengasih ucapan kepada bumi dan alam semesta.

Rumah kami sering kau hancurkan, keluarga kami kau bunuh. Kalo memang kamu ingin bertukar tempat denganku ayo sekarang, biar kamu tahu bagaimana rasanya jadi seperti kami.

Kami tidak berlu akal untuk saling membantu juga gotong royong, kami juga tidak perlu agama untuk saling menghormati dan merawat lingkungan. Yang kami jung jung tinggi adalah bagaiman generasi yang akan datang bisa menikmati apa yang pendahulunya nikmati. Kami jaga lingkungan, kami menghilangkan ego untuk menjadi satu kesatuan. Memang kami kecil dan tidak memiliki akal, dibandingkan denganmu kami ini tidak ada apa apanya. Kami sadar dan kami bersatu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata bapak berilah nilai dalam hidupmu tapi jangan nambah nambah ya nanti semuanya ritme yang kamu capai bisa hancur

Seperti biasa sore datang, aku dan bapakku duduk di beranda rumah dengan teh panas bikinan ibu. Suasana diantara kita sepi sekali hanya melihat lalu-lalang kendaraan bermotor lewat begitu saja. Tiba tiba bapak bilang kepadaku "Kamu kalo dikasih uang kamu mintak uang berapa?. Tapi jangan nambah ya". Dengan penuh pikiran yang matang aku menyebut uang 1 M, yah memang aku hanya bisa membayangkan uang 1 M saja pada saat itu sudah banyak dan tidak kepikiran 1 T nolnya ada berapapun aku tidak tahu "1 M pak". "Kenapa 1M ? Kamu udah punya rencana buat apa itu?" Timpal bapak dari jawabanku tadi. "Sudah pak, buat beli rumah, buat beli montor, buat buka usaha" jawabku. Sambil menghisap rokok ditangan kanannya bapak bilang "cukup ya, benar ya, nanti kamu aku kasih uang 1M tapi jangan nambah loh ya". Tak lama kemudian bapak kembali berbicara Kalo kamu berpikir itu kurang pasti kurang, tapi kalo kamu berpikir bahwa itu anugerah kelebihan yang sangat l...

Negara hayalan

Nagara ini sudah tidak layak untuk orang miskin, butuh uang banyak untuk bertahan hidup di sini. Bagaimana tidak ayahku mati didepan sekretariat rumah sakit karena tidak punya uang. Ibuku juga meninggal karena menyembunyikan penyakitnya gara gara dia tau kalo aku tidak sanggup membiayai berobatnya dan adikku putus sekolah, karena tak ada biyaya.  Aku dipecat di sebuah pabrik karena aku selalu telat ketika istirahat untuk menjalankan kewajiban. Iya benar aku dipecat gara gara mengantri untuk sholat. Aku masih ingat betul bagaimana bunyi UUD 1945 yang dulu waktu SMP aku hafalkan bunyi "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan" mana yang harus dihapuskan? Orang miskinkah? Memang benar kemerdekaan adalah hak, tapi kenyataannya bukan untuk kami! Bayangkan didepan sekretariat bapakku mati tanpa pertolongan karena uangnya tidak cuku...

Kematian dengan damai

Berapa banyak masjid di surga? Jika bisa menjawab kamu boleh menuduhku kafir Berapa banyak gereja di surga? Jika bisa menjawab baptislah aku Adakah kedamaian sejinak merpati atau melainkan seekor jaguar yang buas. Bisakah kalian mengakui kebenaran meskipun tidak harus setuju dengan kebenaran. Adakah yang menantiku dinegara ini? Keunggulan sejati atau kedamaian? Bukan perihal menang dan kalah tapi kedamaian Atau bagaimana kuceritakan tentang kematian, aku sendiri kamatian itu. Sekali lagi berapa banyak masjid dan gereja disurga nanti?