Langsung ke konten utama

Rumah Makan Eyang

Foto hanya gula (pemanis hehe)

Eyang Betari membuat rumah makan dengan tujuan sederhana agar semua orang yang rindu dengan kehangatan rumah bisa merasakannya. Eyang selalu menyambut tamu yang berkunjung di rumahnya seperti anak sendiri, ketika ada yang datang pasti eyang bilang "dari mana aja nak? Ini eyang masak sayur asem sama bakwan, makan ya, nak kamu kelihatan lelah ada apa nak ?, gimana hari ini nak ?" Sambutan hangat seperti anak sendiri begitulah eyang. Hidangan yang ada di rumah makan eyang juga hanya satu tidak bisa memilih dengan lauk apa seperti rumah makan pada umumnya. Apa yang eyang masak itu saja menunya, pengunjung juga bisa mengambil air minum sendiri layaknya di rumah. 


Eyang Betari bercerita dulu sebelum eyang membuat rumah makan ini eyang suka memasak buat anak anak eyang, anak eyang ada 3, dua pria dan satu perempuan. Akan tetapi sekarang Meraka sudah punya kehidupan masing masing. Rasa kerinduan memasak untuk anaknya yang membuat eyang Betari membuat rumah makan ini.


Suatu ketika eyang memasak sayur lodeh dan ikan goreng untuk makan malam dengan anak anaknya, akan tetapi pada saat itu anak anak eyang sudah pada kerja dan memilih makan di luar dengan teman temannya. Hati eyang sangat kecewa sekali, malam adalah salah satu waktu yang eyang punya untuk mengobrol dengan anak anaknya. Pagi anak anak eyang berangkat kerja, ketika pulang ada anak yang sudah makan di luar, ada juga yang lanjut nongkrong dengan teman temannya sampai tengah malam baru sampai rumah.


Eyang Betari sangat kesepian, eyang selalu memasak dengan porsi 4 orang setiap hari dan selalu tidak pernah habis. Sampai anak anak eyang pada menikah dan memiliki rumah sendiri. Sekarang eyang tinggal dengan satu orang yang di sewa anak eyang untuk mengurus eyang.


Suatu pagi di hari Senin yang panas ada mobil keluarga ban bocor di depan rumah eyang Betari, ketika itu eyang baru menyiram tanaman. Eyang menghampiri sepasang anak muda yang tengah kebingungan memperbaiki ban mobil yang bocor. "Nak kenapa mobilnya?" Tanya eyang Betari

"ini Bu bannya bocor, tapi saya lupa tidak membawa dongkrak" saut pria menjawab pertanyaan eyang.

"Yaudah gini aja keliatan kalian belum sarapan to?, yuk makan dulu eyang masak nasi goreng banyak, dirumah juga ada dongkrak kayaknya nanti bisa dicari" eyang Betari menawarkan sarapan kepada sepasang anak muda tersebut.

Perempuan menjawab "wah terima kasih eyang nanti ngerepotin eyang loh" sambil nada malu malu 

"Pas sekali eyang kita belum sarapan hehehe" pria menjawab dengan tertawa. 


Sambil merangkul perempuan, eyang menuntun menuju rumahnya "nah to pada belum sarapan Yuh ke rumah eyang". 

Sesampainya di rumah sepasang kekasih di persilahkan eyang duduk di mana saja sesukanya "duduk dulu dimana aja anggap saja rumah kalian ya dan aku ibu kalian hihihi, eyang ngambil makan dulu di dapur sebentar, kalo mau minum itu di sebelah TV ada kendi silahkan diminum ya" sambil berjalan menuju dapur.


Sepasang kekasih tersebut melihat lihat barang yang ada di rumah eyang, mereka seperti di tarik ke masa lalu banyak sekali perabotan rumah yang mereka punya juga dulu. Gorden pink bermotif angsa, TV tabung, celengan ayam dll.


"Loh ayo duduk ini di makan nasi gorengnya" eyang datang dari dapur sambil membawa dua piring nasi goreng. Sepasang kekasih itu menghampiri eyang dan duduk bersama.


Sambil makan meraka berbincang hangat seperti anak dan ibu. Pertanyaan seperti mau kemana?, kok tidak sarapan kenapa?, kalian ini udah menikah atau masih pacaran? dll, sampai pria menangis di tengah obrolan. "Eyang kayak ibu aku cerewet, terus juga masakan eyang juga mirip kayak masakan ibuku. Tiba tiba memori masa kecilku lewat begitu saja sayangnya ibu aku sudah meninggal eyang." Sambil sesenggukan pria itu berbicara. Eyang langsung memeluk si pria. 


Setelah selesai makan pria mencari dongkrak milik anaknya dulu di gudang rumah eyang dan perempuan membantu eyang mencuci piring. Setelah semuanya beres perempuan bilang ke eyang "eyang besok besok kita mampir kesini lagi boleh ?, nanti aku bawakan oleh oleh buat eyang". Dengan senyuman eyang berkata " mampir aja sesuka kalian eyang suka kok rumah jadi rame dan eyang tidak kesepian lagi" mata eyang berkaca kaca.


Dari situlah rumah makan eyang Betari ada. Sederhana tidak seperti rumah makan pada umumnya hanya saja rumah biasa dengan obrolan hangat didalamnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata bapak berilah nilai dalam hidupmu tapi jangan nambah nambah ya nanti semuanya ritme yang kamu capai bisa hancur

Seperti biasa sore datang, aku dan bapakku duduk di beranda rumah dengan teh panas bikinan ibu. Suasana diantara kita sepi sekali hanya melihat lalu-lalang kendaraan bermotor lewat begitu saja. Tiba tiba bapak bilang kepadaku "Kamu kalo dikasih uang kamu mintak uang berapa?. Tapi jangan nambah ya". Dengan penuh pikiran yang matang aku menyebut uang 1 M, yah memang aku hanya bisa membayangkan uang 1 M saja pada saat itu sudah banyak dan tidak kepikiran 1 T nolnya ada berapapun aku tidak tahu "1 M pak". "Kenapa 1M ? Kamu udah punya rencana buat apa itu?" Timpal bapak dari jawabanku tadi. "Sudah pak, buat beli rumah, buat beli montor, buat buka usaha" jawabku. Sambil menghisap rokok ditangan kanannya bapak bilang "cukup ya, benar ya, nanti kamu aku kasih uang 1M tapi jangan nambah loh ya". Tak lama kemudian bapak kembali berbicara Kalo kamu berpikir itu kurang pasti kurang, tapi kalo kamu berpikir bahwa itu anugerah kelebihan yang sangat l...

Negara hayalan

Nagara ini sudah tidak layak untuk orang miskin, butuh uang banyak untuk bertahan hidup di sini. Bagaimana tidak ayahku mati didepan sekretariat rumah sakit karena tidak punya uang. Ibuku juga meninggal karena menyembunyikan penyakitnya gara gara dia tau kalo aku tidak sanggup membiayai berobatnya dan adikku putus sekolah, karena tak ada biyaya.  Aku dipecat di sebuah pabrik karena aku selalu telat ketika istirahat untuk menjalankan kewajiban. Iya benar aku dipecat gara gara mengantri untuk sholat. Aku masih ingat betul bagaimana bunyi UUD 1945 yang dulu waktu SMP aku hafalkan bunyi "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan" mana yang harus dihapuskan? Orang miskinkah? Memang benar kemerdekaan adalah hak, tapi kenyataannya bukan untuk kami! Bayangkan didepan sekretariat bapakku mati tanpa pertolongan karena uangnya tidak cuku...

Kematian dengan damai

Berapa banyak masjid di surga? Jika bisa menjawab kamu boleh menuduhku kafir Berapa banyak gereja di surga? Jika bisa menjawab baptislah aku Adakah kedamaian sejinak merpati atau melainkan seekor jaguar yang buas. Bisakah kalian mengakui kebenaran meskipun tidak harus setuju dengan kebenaran. Adakah yang menantiku dinegara ini? Keunggulan sejati atau kedamaian? Bukan perihal menang dan kalah tapi kedamaian Atau bagaimana kuceritakan tentang kematian, aku sendiri kamatian itu. Sekali lagi berapa banyak masjid dan gereja disurga nanti?