Langsung ke konten utama

Aku ingin hidup gila dan mati di umur 27


"Apakah perlu menjadi dewasa ?, Apakah perlu juga membahagiakan orang tua ? Atau kita perlu apakah untuk menjalani hidup?". Oi oi oi mulai lagi pertanyaan yang aneh kau lontarkan kepadaku Momo huhhhh. Ingat kita seumuran tahu. "Apakah seumuran kita berpikir demikian Ra? Banyak sekali pertanyaan yang berhamburan dalam kepalaku. Tentang menjadi apa besok, apakah aku bahagia menjalani hidup ini kelak, bagaimana membahagiakan orang tua, keinginan aneh yang ada di hidupku, kamu begitu juga tidak Ra ?". Membaringkan badanya ke pasir laut Momo melihat Rara yang ada di sebelahnya.

Rara berdiri dari duduknya dan menatap Momo "Aku ingin hidup gila Mo dan mati di umur 27. Seperti Kurt Cobain, Jimi Hendrix, dan kawan kawan yang meninggal pada umur 27 tahun dipuncak karirnya hahahaha menyenangkan sekali ketika namanya di agung agungkan mereka pergi".  Bagaimana denganmu Mo?

"Terus kalo kamu meninggal siapa yang menemaniku ? Jangan mati dulu kita belum ke Banda Naira loh kamu udah janji ke aku loh Ra. Kalo kamu menanyakan bagaimana denganku, yah....... aku akan fokus ujian besok aja lah dan membahagiakan orang tua dengan hasil baik. Aku akan belajar mati matian Ra !!!". Dengan nada tegas Momo berdiri dan  menghampiri Rara yang berjalan pelan pelan menuju bibir pantai.

Mereka berdua melarungkan pertanyaan yang tidak bisa terjawab ke laut. Rara menjatuhkan badannya ke tepi pantai sambil melihat langit langit diikuti Momo juga. Menunggu matahari mandi bersamanya di laut yang sama.

"Mo bukannya aneh ya, satu ujian menghalangi masa depan kita ?. Bukannya hidup tidak seremeh temeh itu Mo ? Tapi entahlah aku akan hidup dengan caraku sendiri". Rara berbicara tanpa melihat Momo.

Matahari terjun seperti atlet renang olimpiade kedalam laut sepenuhnya tanpa memperlihatkan badannya sama sekali.
Kedua remaja mulai menggambil tas dan sepatu berjalan pulang meninggalkan pantai.

"Ra kamu masih suka melukis wajah guru ketika pelajaran ? Setelah lulus ini kamu akan lanjutkan studi ke jurusan seni lukis Ra ?". Suara Momo memecah kesunyian perjalan mereka menuju rumah.

"Masih sering ketika bosan dengan penjelasan guru. Kata ayahku melukis tidak akan membuatmu kenyang dan ibuku bilang juga melukis realis semua orang bisa itu bukan bakat hanya butuh ketekunan semua orang bisa, jadikan hobi saja Ra. Yah begitulah kata mereka". Rara menjawab sambil berjalan maju begitu saja. 

Hening kembali lagi menyelimuti mereka berdua, dengan kunang kunang yang mulai nampak mengelilingi mereka.

Setelah sampai di pertigaan yang memisahkan rumah mereka, tiba tiba Rara membalik badan dan berkata kepada Momo " Apa kamu tahu kenapa setiap orang wajahnya berbeda beda?. Agar mereka semua bisa menjalani hidupnya yang berbeda beda. Ternyata tidak ada cara hidup yang pasti dan hidup sesuai keinginanmu mo, dada sampai ketemu besok di sekolah ya ". Setelah berbicara dengan Momo, Rara lari menuju rumahnya. Momo hanya tersenyum dan menuju rumah dengan berlari juga. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata bapak berilah nilai dalam hidupmu tapi jangan nambah nambah ya nanti semuanya ritme yang kamu capai bisa hancur

Seperti biasa sore datang, aku dan bapakku duduk di beranda rumah dengan teh panas bikinan ibu. Suasana diantara kita sepi sekali hanya melihat lalu-lalang kendaraan bermotor lewat begitu saja. Tiba tiba bapak bilang kepadaku "Kamu kalo dikasih uang kamu mintak uang berapa?. Tapi jangan nambah ya". Dengan penuh pikiran yang matang aku menyebut uang 1 M, yah memang aku hanya bisa membayangkan uang 1 M saja pada saat itu sudah banyak dan tidak kepikiran 1 T nolnya ada berapapun aku tidak tahu "1 M pak". "Kenapa 1M ? Kamu udah punya rencana buat apa itu?" Timpal bapak dari jawabanku tadi. "Sudah pak, buat beli rumah, buat beli montor, buat buka usaha" jawabku. Sambil menghisap rokok ditangan kanannya bapak bilang "cukup ya, benar ya, nanti kamu aku kasih uang 1M tapi jangan nambah loh ya". Tak lama kemudian bapak kembali berbicara Kalo kamu berpikir itu kurang pasti kurang, tapi kalo kamu berpikir bahwa itu anugerah kelebihan yang sangat l...

Negara hayalan

Nagara ini sudah tidak layak untuk orang miskin, butuh uang banyak untuk bertahan hidup di sini. Bagaimana tidak ayahku mati didepan sekretariat rumah sakit karena tidak punya uang. Ibuku juga meninggal karena menyembunyikan penyakitnya gara gara dia tau kalo aku tidak sanggup membiayai berobatnya dan adikku putus sekolah, karena tak ada biyaya.  Aku dipecat di sebuah pabrik karena aku selalu telat ketika istirahat untuk menjalankan kewajiban. Iya benar aku dipecat gara gara mengantri untuk sholat. Aku masih ingat betul bagaimana bunyi UUD 1945 yang dulu waktu SMP aku hafalkan bunyi "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan" mana yang harus dihapuskan? Orang miskinkah? Memang benar kemerdekaan adalah hak, tapi kenyataannya bukan untuk kami! Bayangkan didepan sekretariat bapakku mati tanpa pertolongan karena uangnya tidak cuku...

Kematian dengan damai

Berapa banyak masjid di surga? Jika bisa menjawab kamu boleh menuduhku kafir Berapa banyak gereja di surga? Jika bisa menjawab baptislah aku Adakah kedamaian sejinak merpati atau melainkan seekor jaguar yang buas. Bisakah kalian mengakui kebenaran meskipun tidak harus setuju dengan kebenaran. Adakah yang menantiku dinegara ini? Keunggulan sejati atau kedamaian? Bukan perihal menang dan kalah tapi kedamaian Atau bagaimana kuceritakan tentang kematian, aku sendiri kamatian itu. Sekali lagi berapa banyak masjid dan gereja disurga nanti?