Langsung ke konten utama

Ini malam Minggu

Dia memang punya senyum yang bisa bikin kasmaran siang dan malam, tujuh hari tujuh malam, dalam sekali lirik. Namanya Anya mantanku ketika kuliah disalah satu univ negeri Semarang. Anya sudah lulus dan aku masih menjadi mahasiswa abadi di sini, mungkin gara gara ini dia memutuskanku dulu.

Malam Minggu yang malang, teman teman satu kos telah pergi berkencan dengan wanitanya. Tinggal aku seorang duduk di teras kos dengan sebatang rokok di tanganku. Tak tahu kenapa senyum manis Anya datang tanpa di undang. Mulai kucari cari nomer Whatsapp yang sudah 2 tahun jarang kuhubungi, dalam hati "semoga saja masih aktif,siapa tahu ia bisa diajak kencan?"

Aduh, tiba tiba aku jadi gugup. Berjalan mondar mandir, seperti anjing cari tiang buat pipis. Rokok yang baru terbakar setengahnya kubuang, lalu menyalakan yang baru. Ah dapat nomernya, coba aku telfon.

Tu..tu..tu.. ”Hallo?”
”Hallo,” kataku. ”Bisa bicara dengan anya?”
”iya dengan saya sendiri, ini siapa ya?"
"Oh anya ya, coba ingat ingat suaraku ini. Atau kamu ingat tidak tempat makan serba enam ribu di Jl. MH Thamrin"
"Masya Allah. Apa kabar, Sayang? Kau di Semarang? Sehat-sehat saja? Masih hidup?”

Oh shitttt dia memanggilku dengan sebutan sayang. "Aku baik baik saja" sautku.
"Udah makan belum ? Dulu jam segini kamu belum makan loh" sambil tertawa kecil.
"Eh masih ingat saja kau"
"Lalu apa sekarang kerjamu?”
”Yeah, beginilah,” kataku, dengan nada yang sungguh abstrak. ”Luntang-lantung sendirian, tak punya teman ....”
”Mampirlah sini kalau kau mahu.” tawaran yang aku tunggu tunggu.

”Aku tidak punya alamatmu,” kataku.
"Ok aku kirim Sherlock sekarang, aku tunggu jangan lupa pakai minyak wangi wkwkwk" diakhiri dengan tawa kecilnya.

Setalah kudapatkan Sherlocknya, kutelusuri jalanan yang gelap dan sepi sambil kunyanyikan lagu sheila on 7 "yang terlewatkan" dengan kencang. Tuju belas menit, aku sudah berdiri di depan gerbang. Di depanku berderet kamar-kamar pondokan Aku langsung menuju kamar pojok.

Kamar Anya, bekas kekasihku yang sekarang kuharapkan mahu kembali menjadi milikku. Ada topeng hiasan tertempel di pintu. Kuambil dan kukenakan, lalu kuketuk pintu. Pintu terbuka, si cantik itu, tertawa di hadapanku, dengan kemanjaannya yang tak pernah berlalu.

”Copot topengmu,” katanya. Aku balas tertawa dan mengembalikan topeng di tempatnya. ”Kubilang copot topengmu.” Ia mengulangi.
”Sudah!” Aku bingung.
Tawanya yang manis kudengar lagi. ”Maaf, aku lupa wajahmu sejelek topeng.” Aku nyengir sambil duduk di kursi yang ada di teras depan kamarnya. Ia duduk di seberang meja, pada kursi sejenis. Dengan malu-malu kutatap dirinya. Ia masih cantik seperti dulu juga, walaupun ada perubahan di sana-sini. Dulu rambutnya panjang melewati bahu, sekarang ia memotong pendek. Tanpa bisa kucegah, mulutku berkata ”Kau tambah cantik!”
Ia menoleh padaku, dan ada kulihat pipinya merona merah. Tapi matanya tidak memancarkan citra yang malu-malu, seperti dulu waktu pertama kali kurayu. Matanya melotot gemas.

Katanya: ”Kau merayu lagi!”
Aku cuma tertawa. ”Tapi ....” kataku. ”Sekarang kau lebih subur. Naik berapa kilo? Tidak diet?”
”Subur katamu?”
Aku mengangguk. ”Bodoh! Bukan subur. Aku hamil.”
”Kau hamil?” tanyaku tersentak.
”Iya. Aku sudah kawin. Kau belum tahu itu, ya?”
tanyanya sambil memanggil seseorang dari dalam kamarnya.

Dalam hati aku berkata "sialan aku masuk kedalam sangkar burung unta yang sedang berbulan madu" keringat dinginku keluar.

Komentar

  1. Dulu aku sudah punya bayangan, aku duduk di teras rumah sembari membaca koran. Dan kamu berbelanja dengan dasteran. Tapi apadaya, itu hanya banyangan dan kita sekarang sudah beda jalan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata bapak berilah nilai dalam hidupmu tapi jangan nambah nambah ya nanti semuanya ritme yang kamu capai bisa hancur

Seperti biasa sore datang, aku dan bapakku duduk di beranda rumah dengan teh panas bikinan ibu. Suasana diantara kita sepi sekali hanya melihat lalu-lalang kendaraan bermotor lewat begitu saja. Tiba tiba bapak bilang kepadaku "Kamu kalo dikasih uang kamu mintak uang berapa?. Tapi jangan nambah ya". Dengan penuh pikiran yang matang aku menyebut uang 1 M, yah memang aku hanya bisa membayangkan uang 1 M saja pada saat itu sudah banyak dan tidak kepikiran 1 T nolnya ada berapapun aku tidak tahu "1 M pak". "Kenapa 1M ? Kamu udah punya rencana buat apa itu?" Timpal bapak dari jawabanku tadi. "Sudah pak, buat beli rumah, buat beli montor, buat buka usaha" jawabku. Sambil menghisap rokok ditangan kanannya bapak bilang "cukup ya, benar ya, nanti kamu aku kasih uang 1M tapi jangan nambah loh ya". Tak lama kemudian bapak kembali berbicara Kalo kamu berpikir itu kurang pasti kurang, tapi kalo kamu berpikir bahwa itu anugerah kelebihan yang sangat l...

Negara hayalan

Nagara ini sudah tidak layak untuk orang miskin, butuh uang banyak untuk bertahan hidup di sini. Bagaimana tidak ayahku mati didepan sekretariat rumah sakit karena tidak punya uang. Ibuku juga meninggal karena menyembunyikan penyakitnya gara gara dia tau kalo aku tidak sanggup membiayai berobatnya dan adikku putus sekolah, karena tak ada biyaya.  Aku dipecat di sebuah pabrik karena aku selalu telat ketika istirahat untuk menjalankan kewajiban. Iya benar aku dipecat gara gara mengantri untuk sholat. Aku masih ingat betul bagaimana bunyi UUD 1945 yang dulu waktu SMP aku hafalkan bunyi "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan" mana yang harus dihapuskan? Orang miskinkah? Memang benar kemerdekaan adalah hak, tapi kenyataannya bukan untuk kami! Bayangkan didepan sekretariat bapakku mati tanpa pertolongan karena uangnya tidak cuku...

Kematian dengan damai

Berapa banyak masjid di surga? Jika bisa menjawab kamu boleh menuduhku kafir Berapa banyak gereja di surga? Jika bisa menjawab baptislah aku Adakah kedamaian sejinak merpati atau melainkan seekor jaguar yang buas. Bisakah kalian mengakui kebenaran meskipun tidak harus setuju dengan kebenaran. Adakah yang menantiku dinegara ini? Keunggulan sejati atau kedamaian? Bukan perihal menang dan kalah tapi kedamaian Atau bagaimana kuceritakan tentang kematian, aku sendiri kamatian itu. Sekali lagi berapa banyak masjid dan gereja disurga nanti?